Dilihat : 333
Suka Narsis atau Pamer Foto Pribadi di Medsos ?
Di era digital saat ini, media sosial sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Kita berbagi cerita, aktivitas, bahkan foto pribadi. Namun di balik kemudahan tersebut, ada risiko serius yang sering diremehkan: SCAM, impersonality (penyamaran identitas), dan penyalahgunaan foto pribadi. Artikel ini membahas ketiganya dengan bahasa sederhana agar mudah dipahami.
1. Apa Itu SCAM?
SCAM adalah tindakan penipuan yang dilakukan dengan tujuan mendapatkan keuntungan, biasanya berupa uang, data pribadi, atau akses akun korban.
Contoh SCAM yang sering terjadi:
- Pesan WhatsApp/SMS mengaku dari bank, minta kode OTP
- Link hadiah palsu (undian, kuota gratis, bantuan sosial)
- Toko online palsu di Instagram atau Facebook
- Email mengaku dari instansi resmi (phishing)
Ciri-ciri SCAM:
- Mendesak korban untuk bertindak cepat
- Menggunakan ancaman atau iming‑iming hadiah besar
- Link mencurigakan dan domain aneh, domain-domain resmi pemerintahan Indonesia menggunakan domain go.id, sementara domain-domain palsu yang mengatasnakan instansi resmi umumnya menggunakan domain selain go.id. Sebagai informasi bahwa domain-domain resmi seperti go.id, sch.id, ac.id, adalah domain yang proses pembuatannya tidak semudah membuat domain lainnya, sebab untuk membuat domain resmi ini dibutuhkan bukti dokumen yang valid karena menyangkut nama dan legalitas sebuah instansi. Jadi tidak bisa sembarangan dibuat oleh orang biasa.
- Mengatasnamakan pihak terkenal atau resmi
Dampak SCAM:
- Kehilangan uang
- Akun dibajak
- Data pribadi disalahgunakan

2. Apa Itu IMPERSONALITY (Penyamaran Identitas)?
Impersonality adalah tindakan menyamar sebagai orang lain, baik menggunakan nama, foto, maupun identitas palsu, untuk menipu atau merugikan korban. Aktivitas impersonality ini sudah ada sejak lama. Bagi pelaku ahli, biasanya dia tidak akan serta merta menyamar sebagai orang lain, tapi dia akan mengamati dan mempelajari dulu apa pola kebiasaan orang yang akan diambil identitasnya untuk dijadikan samaran. Tidak hanya mengambil foto, tapi juga biasanya akan memposting dengan gaya yang dibuat mirip serta ikut menjalin pertemanan dengan relasi target yang dijadikan samaran.
Contoh kasus impersonality:
- Akun palsu memakai foto guru, kepala sekolah, atau pejabat atau tokoh lainnya
- Akun tiruan teman/keluarga meminta transfer uang
- Profil palsu untuk mendekati korban secara emosional
Mengapa ini berbahaya?
- Korban percaya karena merasa mengenal pelaku
- Sulit dibedakan dari akun asli
- Sering dikombinasikan dengan SCAM
3. Bahaya Memposting Foto Pribadi di Media Sosial
Memposting foto pribadi terlihat sepele, tetapi dapat menjadi bahan kejahatan digital.
Risiko yang bisa terjadi:
- Pencurian Identitas (Impersonality)
Foto dapat digunakan untuk akun palsu atau penipuan.
- Penyalahgunaan Foto (Edit & Deepfake)
Foto bisa diedit, dimanipulasi, atau digunakan untuk konten negatif. Pada kasus terbaru adalah adanya penyalahgunaan foto perempuan yang diedit menggunakan AI dan dijadikan foto vulgar.
- Pelacakan Lokasi & Kebiasaan
Foto dengan lokasi, seragam, atau rutinitas memudahkan pelaku memetakan target.
- Ancaman & Pemerasan
Foto pribadi bisa dijadikan alat pemerasan (sextortion).

## Tips Aman Bermedia Sosial
- Batasi informasi pribadi (alamat, sekolah, nomor HP)
- Jangan unggah foto sensitif atau terlalu detail
- Atur akun menjadi private
- Verifikasi akun sebelum percaya atau transfer uang
- Jangan klik link sembarangan
- Edukasi diri sendiri, keluarga dan teman tentang keamanan digital
SCAM, impersonality, dan penyalahgunaan foto pribadi adalah ancaman nyata di media sosial. Kewaspadaan dan literasi digital adalah kunci utama untuk melindungi diri dan orang‑orang di sekitar kita.
Ingat: Sekali data dan foto tersebar di internet, sangat sulit untuk menariknya kembali.
Bijak bermedia sosial hari ini, aman di masa depan.